KEEP ON GREEN

“Kesederhanaan Adalah Sesuatu Yang Menarik”

Kontroversi “Supriyadi”

Pukul 02.00 WIB dinihari suara letusan senjata terdengar di asrama PETA (Pembela Tanah Air), Blitar. Tembakan itu diletuskan oleh Shodancho Supriyadi. Ia adalah pemimpin pemberontak anggota Peta Blitar terhadap tentara Jepang. Tembakan Supriyadi itu sebagai tanda dimulainya pemberontakan yang dilakukan 200 anggota yang mukim di asrama itu, pada 15 Februari 1945.

Dalam peristiwa itu 20 serdadu Jepang yang berutugas di asrama tewas. Mereka dihabisi saat sedang berjaga di pos maupun yang sedang tidur di rumah. Sedangkan di kubu PETA 15 orang terbunuh dalam aksi baku tembak dengan tentara Jepang maupun anggota Peta yang datang dari wilayah sekitar Blitar, seperti Malang dan Kediri. Pasukan bantuan tentara Jepang mulai berdatangan ke Blitar pukul 08.00 WIB atau enam jam setelah meletusnya pemberontakan.

Datangnya pasukan bantuan dari luar Blitar membuat pasukan Supriyadi kocar-kacir. Mereka kehabisan amunisi serta kelelahan melawan pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Akhirnya mereka melarikan diri secara berpencar. Adapun Supriyadi bersama enam anggota PETA yang lain lari ke hutan di wilayah Blitar Selatan. Saat dalam pelarian di dalam hutan, satu per satu anggota PETA yang ikut Supriyadi meninggal karena berbagai sebab. Tinggalah Supriyadi seorang diri di dalam hutan.

Selama di hutan Supriyadi memakan apa saja yang ada di hutan, terutama buah-buahan. Tapi terkadang ia juga makan ketela rambat di pinggiran hutan yang ditanam petani. Dalam pelariannya itu, ia terus berjalan menuju ke timur Pulau Jawa hingga mencapai Alas Purwo (hutan Purwo), yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Selama dalam perjalanan Supriyadi tidur sekenanya. Kadang di gua, di atas pohon, atau di tanah landai yang hanya dialasi daun kering.

Dari Alas Purwo, Supriyadi kembali bergerak ke arah barat hingga ke Alas Ketonggo, wilayah selatan Ngawi. Masa pelarian Supriyadi di dalam hutan berlangsung hingga Mei 1945, atau sekitar 100 hari sejak meletusnya pemberontakan yang gagal itu.

Lama di dalam hutan untuk menghindar dari kejaran serdadu Jepang, rupanya membuat pemimpin pemberontakan PETA Blitar ini bosan juga. Akhirnya ia memutuskan berangkat ke Jakarta untuk bertemu Bung Karno, yang saat itu menjadi tokoh pergerakan Indonesia. Untuk sampai ke Jakarta, Supriyadi singgah ke beberapa tempat terlebih dahulu, yakni ke Ngawi, Solo, Salatiga terus ke Semarang. Setelah itu barulah ia naik kereta dari Stasiun Tawang, Semarang menuju Gambir, Jakarta.

Sesampai di Jakarta, Supriyadi tidak lantas menuju rumah Bung Karno. Ia mampir dulu ke sebuah tempat di Jalan Menteng Raya No. 31, yang sekarang di sebut Gedung Joeang. Tempat itu dulu merupakan markas pejuang kemerdekaan Indonesia.

Di sana Supriyadi sempat bertemu dengan Sukarni Kartodiwirjo, tokoh pergerakan yang juga asal Blitar. Ia juga bertemu dengan tokoh pemuda yang lain, seperti Wikana, Ronggo, Samsir Mohamad dan Chaerul Saleh. Kepada para pejuang yang ada di situ, Supriyadi sempat bercerita tentang peristiwa pemberontakan Blitar. Sore harinya, baru Supriyadi berangkat ke rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur.

Begitu tiba di rumah Bung Karno, ia ditemui Tukimin, penjaga rumah Soekarno saat itu. Tak lama berselang Bung Karno pun muncul. Supriyadi kemudian bercerita seputar kejadian pemberontakan Blitar. Selama beberapa jam Bung Karno mendengarkan penuturan Supriyadi di halaman belakang rumahnya itu. Setelah merasa jelas, Bung Karno kemudian meminta Supriyadi untuk tinggal di rumahnya dan diangkat menjadi pembantu utamanya.

Kisah ini diungkapkan Andaryoko Wisnu Prabu dalam sebuah buku berjudul ‘ Mencari Supriyadi’, yang ditulis Baskara Wardaya. Andaryoko yang kini berusia 89 tahun itu, mengaku kalau dirinya adalah Supriyadi, tokoh PETA yang menghilang sejak peristiwa pemberontakan di Blitar Februari 1945.

Andaryoko yang lahir di Salatiga pada 22 Maret 1920, mengaku, sengaja menyembunyikan identitas dirinya sebagai Supriyadi dan berganti nama karena suruhan Soekarno. Soalnya, Supriyadi, saat itu (sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI), masih dicari-cari penjajah Jepang.

Dikisahkan Andaryoko, perubahan nama tersebut terjadi pada awal Juni 1945. Saat itu ia disuruh menghadap KRT Mr. Wongsonegoro yang kala itu mejabat Fuku Syuchokan atau Wakil Residen Semarang. Dengan berbekal surat dari Soekarno, ia kemudian diterima sebagai staf pribadi Wongsonegoro. Meski demikian ia diperbolehkan untuk bolak-balik Semarang-Jakarta untuk melakukan perjuangan melawan penjajah Jepang.

Dalam buku itu, Andaryoko juga banyak bercerita tentang perjalanan sejarah kemerdekaan RI hingga lengsernya Soekarno dari kursi kepresidenan. Bahkan ia juga mengaku kalau dirinya adalah salah satu pengibar bendera pusaka. Sosok pemuda yang bercelana pendek yang terekam dalam dokumentasi sejarah diakui Andaryoko sebagai dirinya.

Pengakuan tersebut jelas berbeda dengan keterangan sejarah sebelumnya yang menyebutkan kalau sosok pria bercelana pendek itu adalah Ilyas Karim, yang saat ini tinggal di pinggiran rel kereta api di wilayah Kalibata, Jakarta Selatan. Adapun menurut versi buku-buku sejarah yang ada disebutkan, pengibar bendera merah putih itu adalah Shudanco Singgih dan Latief Hendraningrat.

Sekalipun ada perbedaan, dengan rinci pria sepuh ini menjelaskan rentetan peristiwa sebelum dan sesudah kemerdekaan RI, terutama saat-saat menegangkan sebelum dibacakannya naskah proklamasi. Ia juga mengungkapkan kisah percintaan Bung Karno dengan Hartini maupun dengan Ratna Sari Dewi. Hal itu diketahuinya lantaran ia sempat menjadi pembantu utama Soekarno kala itu.

Andaryoko juga mengaku punya sejumlah bukti kalau dirinya adalah Supriyadi, tokoh Peta yang selama ini dianggap hilang. Bukti-bukti yang dimiliki lelaki sepuh ini berupa foto-foto masa mudanya sebelum hingga sesudah proklamasi dibacakan. Bahkan ia juga siap untuk dipertemukan dengan sanak famili Supriyadi yang lain.

Namun bagi RK Soeroto Darmadi, adik tiri Supriyadi, pengakuan Andaryoko, warga Pedurungan, Semarang ini, hanya lelucon saja. Sebab menurut Soeroto, dengan melihat ciri-ciri fisik yang ada pada diri Andaryoko saja sudah kelihatan berbeda dengan Supriyadi. Belum lagi tentang usia Andaryoko yang mengaku lahir tanggal 22 Maret 1920 berbeda dengan catatan yang dimiliki keluarga Supriyadi. Sebab dari catatan keluarga, Supriyadi lahir pada 13 April 1923. Sehingga kalaupun Supriyadi masih hidup usianya saat ini 85 tahun. Sedangkan Andaryoko saat ini usianya 89 tahun.

Dengan perbedaan usia tersebut, Soeroto tidak yakin kalau Andaryoto adalah Supriyadi, pemuda yang telah hilang puluhan tahun tersebut. “Keluarga kami sudah jenuh dengan pengakuan-pengakuan seseorang yang bernama Supriyadi. Karena kami telah meyakini bahwa Supriyadi telah meninggal dunia, meskipun jasad maupun kuburannya belum ditemukan,” ujar Soeroto.

Namun kata Andaryoko, dirinya memang lahir di Salatiga, 23 Maret 1920. Tapi saat mendaftar sebagai anggota PETA usianya data itu diubahnya menjadi kelahiran Trenggalek, 13 April 1923. Alasannya, kalau mengaku lahir di Salatiga, pengurus PETA akan menaruh dirinya di asrama PETA di wilayah Solo atau Semarang. Sementara dirinya sengaja ingin masuk PETA Blitar supaya ibunya di Salatiga tidak tahu kalau ia bergabung menjadi relawan PETA. Soalnya Sudjinah, ibunya, tidak setuju ia bergabung dengan PETA.

Pastinya, kontroversi soal kebenaran pengakuan Andaryoko terus bergulir. Sedangkan pemerintah sejauh ini belum mau menanggapi pengakuan itu. Menurut Mensesneg Hatta Rajasa, untuk melacak kebenaran pengakuan Andaryoko sebagai Supriyadi, yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional era Presiden Soeharto, adalah tugas pemerintah daerah.

“Pemerintah daerah yang lebih mampu melacak kebenaran apakah orang itu (Andaryoko) benar sebagai Supriyadi atau bukan. Karena mereka punya rekam jejak setiap warganya,” ujar Mensesneg.

Sejauh ini, lanjut Hatta, pemerintah belum bisa mengambil sikap karena tidak punya waktu untuk mengurusi pengakuan itu dengan alasan bisa merepotkan. Kata Hatta, kalau pemerintah selalu menanggapi pengakuan-pengakuan seseorang tanpa melalui penelitian yang mendalam dan terpercaya. “Ya kalau ada orang mengaku-ngaku terus pemerintah memberikan sikap, bisa repot jadinya,” begitu kata Hatta
Narto adalah tim pengawas tahanan yang datang di acara pengajian yang dilakukan Habib Rizieq di tahanan, setiap pagi dan sore hari. Tugasnya, memperingatkan para tahanan yang coba memanfaatkan acara pengajian untuk wara-wiri di lorong-lorong tahanan.
 
Pengajian yang digelar Habib Rizieq dilakukan di lantai dasar rumah tahanan Polda Metro Jaya. Diikuti oleh semua tahanan yang berada di blok A. Tujuan diadakannya pengajian ini untuk membangkitkan semangat dan mental dari para tahanan. (Surabaya.detik.com)

1 Komentar»

  Ava wrote @

bgus. qu mnta fto sma artikelnya. Mkcii bgt.. :))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: