KEEP ON GREEN

“Kesederhanaan Adalah Sesuatu Yang Menarik”

Trilliunan rupiah hanya untuk sehari…

Luar biasa banyak uang yang berputar dalam Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada Jawa Timur. Bukan hanya penyelenggaraannya yang memakan biaya sekitar Rp 500 miliar, tetapi yang lebih tidak terkendali adalah biaya sosialisasi, kampanye, dan biaya pemenangan calon gubernur dan wakil gubernur itu.

Dikatakan tidak terkendali dalam arti yang sebenarnya. Sampai beberapa hari menjelang masa kampanye resmi Pilkada Jatim pada 6-20 Juli 2008, misalnya, salah satu pasangan calon Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa), yang mulai ”memublikasikan” diri sejak beberapa tahun lalu, telah menghabiskan biaya sekitar Rp 1,3 triliun.

Jumlah itu dibenarkan oleh Tim Pemenangan Karsa, Achmad Ruba’i. Menurut dia, banyak partisipan pengagum Soekarwo yang membantu sosialisasi. Biaya politik yang sudah digunakan bahkan bisa lebih dari Rp 1,3 triliun.

Dana untuk mendapatkan dukungan tentu sangat banyak. Untuk partai politik yang diharapkan menjadi pengusung tetapi tidak terealisasi terbuang beberapa puluh miliar rupiah. Untuk beberapa partai yang kini menjadi kendaraan politik, tentu lain lagi, beberapa puluh miliar rupiah lagi. Sementara pendekatan dengan elemen masyarakat juga tidak lepas dari tradisi pemberian ”sangu” ketika mereka pulang.

Ajang menarik massa, seperti jalan sehat, dilakukan dengan iming-iming undian berhadiah umrah dan puluhan sepeda motor. Hal ini dilaksanakan di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Surabaya.

Pasangan Soenarjo-Ali Maschan (Salam) juga berkali-kali membeli slot di salah satu stasiun televisi lokal Jatim untuk penayangan permainan wayang Ki Soenarjo. Di salah satu sisi layar kaca terpampang wajah sang dalang itu. Pagelaran juga diselingi undian berhadiah.

Pasangan Khofifah-Mudjiono (Kaji) juga tidak berbeda. Pada 2 Juli lalu, uang Rp 1 miliar disumbangkan pasangan itu sebagai dana abadi kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jatim. Sumbangan ini, menurut Khofifah, berasal dari Ketua Umum Pengurus Besar (PB) NU KH Hasyim Muzadi. Namun Hasyim malah mengatakan, sumbangan itu berasal dari Khofifah.

Rois Syuriah PW NU Jatim KH Muftachul Akhyar menyatakan, walau menerima sumbangan dari Kaji, PW NU tetap netral terhadap semua calon yang akan berlaga dalam Pilkada Jatim. Karena itu, ia juga mempersilakan calon lain ikut menyumbang bila mau.

Agung Prihatna dari Tim Pemenangan Pasangan Achmady- Soehartono (Achsan) dalam diskusi Publik Bicara di Surabaya, Kamis pekan lalu, mengatakan, tim ini akan mengutamakan hal yang lebih substansial ketimbang sosialisasi dan kampanye yang menghabiskan uang banyak. Namun, dalam proposal pencarian biaya politik untuk pemenangan pasangan calon kepala daerah itu tertulis anggaran yang diperlukan Rp 709 miliar.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim, Didik Prasetyono, mengatakan, anggaran yang sangat besar ini sulit dipantau masyarakat. Sebab, penghitungan dana kampanye akan dimulai pada masa kampanye, yaitu sehari sebelum kampanye dan sehari sesudah kampanye.

Bayangkan kalau masing-masing calon mengeluarkan dana Rp 1 triliun untuk pemenangan mereka. Itu berarti dari lima pasangan calon telah beredar uang sebesar Rp 5 triliun. Bandingkan dengan penggalangan dana kampanye yang dilakukan Barack Obama dan Hillary Clinton untuk menuju kursi presiden Amerika Serikat (AS).

Selama masa pemilihan pendahuluan, dana kampanye Obama terkumpul 272 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,5 triliun. Hillary Clinton mengumpulkan 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,8 triliun. John McCain hanya mengumpulkan 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 932 miliar. Dari data ini, dana kampanye seorang calon gubernur di Indonesia ternyata bisa lebih besar daripada dana kampanye seorang calon presiden AS.

Kekayaan calon

Harta calon gubernur dan wagub Jatim juga menarik untuk ditelisik. Soekarwo, misalnya, dalam dua tahun saja kekayaannya melejit sekitar Rp 5,828 miliar. Mudjiono dalam satu tahun kekayaannya meningkat Rp 2,355 miliar. Soenarjo dalam dua tahun kekayaannya juga meningkat Rp 2,117 miliar.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini sedang memeriksa laporan kekayaan calon kepala daerah ini. Tak cuma calon yang memiliki kekayaan meningkat tajam, tetapi juga calon lain yang memiliki kekayaan sedikit. Menurut Direktur Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK Muhammad Sigit, selain melakukan pemeriksaan administrasi dan faktual, KPK juga menerima pengaduan masyarakat atas aset atau kekayaan calon yang tidak dilaporkan.

Saat ini kampanye telah dimulai. Tinggal hitungan hari masyarakat Jatim memiliki hak untuk menentukan siapa pemimpin yang akan membawa provinsi itu ke depan. Tinggal ditunggu, akankah triliunan rupiah uang yang sudah ”terbuang” ini dapat menghasilkan pemimpin yang akan membawa Jatim maju atau tidak? Selamat memilih.

2 Komentar»

  mey_yang wrote @

eehhmmm….. duit segitu banyak….. dari mana yaa…????

  banyuagung wrote @

@mey_yang
duitnya dari mana???? waduh belum tau tuh…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: